BERANDA Headline Bila Anif Shah Ditahan, Krengkeng Monyet Disiapkan di KPK

Bila Anif Shah Ditahan, Krengkeng Monyet Disiapkan di KPK

SHARE
Musa rajeck Shah alias Ijek dan Anif Shah

JAKARTA | Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diharap segera meningkatkan stayus hukum Anif Shah dan Musa Rajeck Shah alias Ijek dari saksi menjadi tersangka, terkait kasus dugaan gratifikasi dan suap mantan Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pudjonugroho. Selain itu, juga memanggil dan memeriksa bos PT Cemara Asri Group, Mujianto yang diduga sebagai salah satu bandar suap penyalahgunaan jabatan dan wewenang Ajib Shah selaku Ketua DPRD Sumut ketika itu.

“Tingkatkan status hukum Anif Shah dan Musa Rajeck Shah. Panggil dan periksa Mujianto selaku terduga bos atau bandar besar terjadinya suap itu. Penyampaian pembatalan hak interplasi dan pengesahan APBD Sumut dilakukan para anggota dewan pimpinan Ajib Shah ketika itu, diduga untuk tekanan pada Gatot guna perluasan lahan realestate Cemara Asri Group di eks HGU PTPN-2,” sebut Mulkan, praktisi hukum asal Sumut, juga Sekjen Pergerakan Rakyat SUmatera, di Jakarta Selatan, Minggu (13/5/2018).

Memang, jelas Mulkan, saat ini status Mujianto sendiri sebagai buronan Polda Sumut dalam kasus penipuan sebesar Rp3,5 miliar. Mujianto diduga ‘dilarikan’ dan diselamatkan oknum-oknum polisi korup, jaksa korup, pengacara Sandri Alamsyah Harahap selaku pengacara keluarga besar Anif Shah, serta politisi Partai NasDem DPRD Sumut asal kelahiran Aceh.

“Ada dugaan kalau para mafia tanah dan mafia kasus melalui oknum-oknum polisi dan jaksa korup serta politisi khususnya pengacara Sandri Alamsyah Harahap, Mujianto akan diseret dalam kasus suap anggota DPRD Sumut, terkait perannya sebagai bandar suap kasus itu melalui Anif Shah dan Musa Rajeck Shah. Mereka melalui keluarga Mujianto mengajukan penangguhan penahanan kasus penipuan Mujianto ke Poldasu. Lalu Mujianto ‘dilarikan’ ke Aceh berikutnya dikabarkan ke kampung halamannya di Singapura,” tambah Mulkan.

Ditimpali Syahrizal, juga praktisi hukum asal Sumut, Mujianto diyakini ‘dikondisikan pengamanan’ dan pelariannya oleh para penegak hukum korup yang selama ini menjadikan keluarga besar Anif Shah sebagai ‘majikan’ bahkan ‘dewa’, guna memberi ruang bagi Mujianto untuk selamat dari jeratan pidana penipuan dan gratifikasi pada Gatot Pujo membantu dana suap pada segenap anggota DPRD Sumut priode 2009-2019. Mujianto juga punya waktu untuk mencari beking hingga semua kasus yang melibatkannya dihentikan penegak hukum.

“Ingat kasus korupsi kredit fiktif Bank BNI 46 Jalan Pemuda Medan? Tersangka Boy Hermansyah sempat buron 2 tahun dan ditangkap Polda Metro di Bandara Soeta, jakarta. Lalu diserahkan ke Kejatisu. Boy Hermansyah koruptor Rp 119 miliar penahanannya ditangguhkan Kejatisu dengan alasan sakit jantung. Jaminan Rp2 miliar dan pihak keluarga. Lalu Boy Hermansyah kabur lagi. Berikutnya kasus pun SP-3 oleh pihak kejaksaan Agung pimpinan M Prasetyo,” papar Syahrizal.

“Nah, kasus MUjianto juga diduga diskenario pihak politisi NasDem dan Kejaksaan serta oknum polisi korup bersama pengacara keluarga besar Anif Shah, Sandri Alamsyah Harahap. Memang pengacara Mujianto bukan Sandri, tapi ada ‘di belakang’ mereka,” tambah Syahrizal.

Karenanya, harap Syahrizal, kalau aparat penegak hukum mau dan memang tegas, tak sulit mengejar dan menangkap Mujianto. Begitu juga KPK, diyakini sudah memiliki dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan Anif Shah dan Musa Rajeck Shah yang kini calon Wakil Gubernur Sumut di Pilkada 2018, sebagai tersangka suap pengesahan DPRD Sumut.

“Begitu Anif dan Ijeck dinyatakan tersangka dan ditahan, kita siapkan krengkeng sebesar kandang monyet di KPK. Itu kalau memang kapasitas tahanan over ya.. Soalnya saat ini saja 38 anggota DPRD Sumut yang sudah ditambah sebagai tersangka,” tutupnya.

Diketahui, Anif Shah dan Musa Rajek Shah untuk kali kedua diperiksa penyidik KPK di Mako Brimob Poldasu di Medan, pada Sabtu (21/4/2018). Ijeck yang juga merupakan calon wakil gubernur (Cawagub) Sumut periode 2018-2023, datang mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Sementara H Anif, mengenakan setelan batik. Keduanya tampak turun dari mobil jenis Toyota Alphard hitam bernomor polisi BK 9 TD.

Namun usai pemeriksaan, kepada wartawan Ijeck dan melalui tim suksesnya di Pilkada 2018, menyebut kedatangan mereka memenuhi panggilan KPK, terkait pengembalian duit pinjaman Gatot Pujo Nugroho untuk gaji ANS Pemprovsu. Sementara pada pemeriksaan pertama 2016 lalu, Ijeck malah mengatakan ia dan ayahnya dipanggil KPK cuma untuk cakap-cakap dengan penyidik KPK soal perkembangan pembangunan di Sumatera Utara.

“Apa urusan terduga mafia tanah dengan pinjam meminjam uang gaji ANS Pemprovsu? Cakap-cakap dengan penyidik KPK? Jelas salah besar sesuai UU KPK, dimana seorang yang tengah berurusan dengan tindak pidana korupsi, tidak diperkenankan duduk sama apalagi ngobrol dengan KPK,” kata Hasiholan Siregar, Ketua Umum Pergerakan Rakyat Sumatera, Senin kemarin saat diminta tanggapannya lewat selular, soal kesan upaya pembungkaman dan penyelamatan Anif Shah dan Ijeck dari jeratan pidana korupsi oleh para oknum aparat korup dan diduga terlibat jaringan narkoba internasional.(Hus)