BERANDA Nasional Dalam Sepekan, 180 Ton Ikan Mati di Danau Toba

Dalam Sepekan, 180 Ton Ikan Mati di Danau Toba

SAMOSIR | Dinas Pertanian Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut) menyampaikan kalau penyebab ratusan ton ikan yang mati mendadak di Danau Toba dalam sepekan ini diduga lantaran debit air Danau Toba yang semakin menurun.

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Samosir, Jhunelis Sinaga, JUmat (24/8/2018) mengatakan, kematian ikan secara massal di Kerambah Jaring Apung (KJA) itu mungkin karena debit air Danau Toba yang semakin menurun. Dia tidak menampik air Danau Toba memang mengalami penyurutan hingga empat meter dari biasanya.

Penyurutan Air Danau Toba, lanjutnya, menyebabkan kurangnya pasokan oksigen ke dalam, sehingga, suhu air danau berubah dan berpengaruh pada ekosistem ikan. “Ada perubahan suhu dari dasar perairan hingga ke permukaan sehingga oksigen itu sangat berkurang,” jelas Sinaga, Jumat (24/8/2018).

Menurutnya, kedalaman kerambah juga menjadi masalah. Saat ini, katanya, kedalaman kerambah tidak mencapai 30 meter. Sesuai dengan peraturan yang sudah ditentukan. Kedalaman rata-rata kerambah hanya 10 meter.

Dipaparkannya, di Danau Toba memang banyak ditemui KJA. Namun hingga kini belum ada kebijakan kabupaten setempat untuk mengatur KJA. Bahkan saat ini Samosir masih menyusun Rancangan Peraturan Bupati (Ranperbup) terkait izin usaha perikanan.

“Karena selama ini izin usaha perikanaan ini belum kita jalankan. Jadi nantinya kita akan imbau pada pemilik kerambah supaya mereka mau memindahkan kerambanya ke lokasi yang sudah diperuntukkan,” katanya.

Selama ini Pemkab Samosir masih berpedoman dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2014. Di dalamnya terdapat peraturan tentang kedalaman untuk beternak ikan di danau. Kedalamannya minimal 30 meter sampai lebih.

Sayangnya itu tidak dituruti. Pemilik keramba masih membuat jaring kerambah di kedalaman 10 meter. Saat ini ada 9 kecamatan di Kabupaten Samosir yang memiliki kerambah. Paling banyak berada di Kecamatan Pangururan.

Untuk sementara, Pemkab masih melakukan upaya evakuasi bangkai ikan menggunakan alat berat. Kemudian dikuburkan di sekitar lokasi. “Kepada pemilik keramba untuk dua bulan ini rehab dululah sekaigus mereka menjemur jaringnya dulu,” jelasnya.

Sinaga menyangkal kalau endapan pakan ikan di dasar danau juga menjadi penyebab kematian. Dia mengklaim seluruh petani menggunakan pakan yang mengapung.

“Namun begitu pun kita tetap melakukan penelitian dengan membawa sampel air dan pakannya. Hasilya belum ada, karena Dinas Perikanan Provinsi akan turun untuk mengecek hal tersebut,” dalihnya.

Sesuai data diperoleh, sedikitnya 140 kerambah yang ikannya mati massal. Totalnya hingga 180 ton jenis ikan mujair dan ikan mas. Akibat itu, pemilik ikan mengalami kerugian berkisar mencapai Rp4 miliar.(Ril)

Loading...