BERANDA Ekonomi Defisit Transaksi Berjalan, Komunikasi Pemerintah Kurang Baik

Defisit Transaksi Berjalan, Komunikasi Pemerintah Kurang Baik

Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS di Valuta Inti Prima (VIP), Jakarta, Jumat (29/9). Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan sore di akhir pekan terpantau menguat tipis sebanyak 43 poin atau setara 0,32 persen ke posisi Rp13.472 per USD. "Day range" nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp13.300 per USD hingga Rp13.400 per USD. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye/17

HONG KONG | Pemerintah dinilai melakukan kesalahan guna mengelola defisit transaksi berjalan yang membebani daya saing Indonesia.

Menurut pakar ekonomi, Lin Che Wei, kesalahan itu terkait dengan komunikasi yang dilakukan pemerintah terkait penyebab defisit transaksi berjalan ini.

“Pada tahun 80-an, Singapura mengalami defisit transaksi berjalan hingga -21%, namun tidak ada apa-apa,” ucap Lin Che Wei dalam BNI Economy & Investment Outlook 2019, Rabu (12/12).

Lin Che Wei menambahkan, hal ini bisa terjadi karena Singapura bisa mengkomunikasikan dengan baik alasan membengkaknya defisit transaksi berjalannya.

Sekarang ini, lanjutnya, Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan karena pertumbuhan ekonominya yang bergairah.

Hal ini gagal disampaikan oleh pemerintah.

“Kita tidak menjelaskan hal ini dengan baik kepada publik,” tambahnya.

Dampaknya, defisit ini mengirimkan mixed signal kepada investor.

Ke depannya, dia melihat Indonesia memerlukan lebih banyak investasi langsung untuk mengatasi defisit transaksi berjalan ini.

Pada kuartal III/2018, defisit transaksi berjalan Indonesia tembus hingga 3,37% di atas batas yang sehat yakni 3% terhadap PDB.

Hanya saja, Bank Indonesia (BI) meyakini pelebaran ini akan bisa ditekanan hingga di bawah 3% untuk keseluruhan tahun.

BNI Economy & Investment Outlook 2019 ini diadakan di BNI Gallery Hong Kong dan merupakan kerja sama dengan Kumparan dan Bisnis Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh 60 investor dan bankir dari Hong Kong.(Ril)

Loading...