BERANDA Headline Diduga Modali Pencapresan Jokowi, Mujianto tak Juga Dipenjarakan

Diduga Modali Pencapresan Jokowi, Mujianto tak Juga Dipenjarakan

Mujianto saat ditangani Poldasu (mukannya yang dilingkari)

MEDAN | Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara diduga atas perintah Jaksa Agung M Prasetyo dan bos Partai NasDem, Surya Paloh menjadikan bos PT Cemara Asri, Mujianto alias Anam sebagai salah satu Taipei di Sumatera Utara untuk membantu modal politik Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

Karenanya, Mujianto yang sempat berhasil jadi buron Poldasu atas bantuan politisi NasDem Sumut dan Prananda Surya Paloh serta pihak Kejatisu pimpinan Bambang Sugeng Rukmono, sampai saat ini tak dibawa ke meja peradilan. Diketahui, Mujianto ditangkap dan sempat beberapa ‘detik’ ditahan Poldasu atas kasus penipuan sebesar Rp 3,5 miliar.

“Mujianto adalah salah satu Taipei (pengusaha China) di Indonesia yang selama bertahun-tahun diduga tempat ‘silaturrahmi’ para oknum petinggi Kepolisian dan Kejaksaan tiap kali mau pendidikan kenaikan pangkat dan menumpuk kekayaan. Di Pilpres 2019 ini, diduga salah satu ‘donator’ capres incumbent,” sebut Mulkan, praktisi hukum juga Sekjen Pergerakan Rakyat Sumatera, Senin (8/10/2018) lewat selular.

“Banyak pejabat korup dan maling uang rakyat di Sumut dan di tanah air ‘dimainkan’ Kejaksaan dan Kepolisian seperti Mujianto. Masak sampai sekarang tak juga diadili. Nunggu publik lupa kasusnya seperti bos Centre Point Medan, Handoko Lien yang DPO dan kini tak dicari lagi. Koruptor BNI 46 Jalan Pemuda Medan, Boy Hermansyah yang akhirnya kasus SP-3. Penegak hukum di pemerintahan Joko Widodo sekarang ini sepertinya ramai-ramai merampok para koruptor,” tambahnya.

Sebelumnya, Jaksa Agung M Prasetyo melalui Kajati Sumut, Bambang Sugeng Rukmnono, telah menunjuk Kasi Oharda Taufik, bersama Sri Lastuti dan Randi Tambunan memimpin penuntutan berkas perkara penipuan Mujianto yang merupakan mafia tanah eks HGU PTPN-2 bersama Anif Shah dan putranya, Musa Rajek Shah tersebut.

Kata Kajatisu melalui Kasi Penkum Kejatisu, Sumanggar Siagian, Jumat (10/08/2018), kasus penipuan Mujianto masih tahap pendalaman pemberkasan akan tetapi juru bicara Kejatisu ini belum bisa memastikan kapan kasus tersebut dilimpahkan.

“Kita masih dalam pendalaman berkas. Belum bisa dipastikan kapan kita kirim berkasnya ke pengadilan,” Kata Sumanggar.

Ironisnya, Mujianto yang sempat masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) dan ditangkap pihak Imigrasi di Jakarta, tak dilakukan penahanan. Gegaranya, Mujianto memberi jaminan duit Rp 3 miliarke Kejaksaan.

Sementara anak buah Mujianto dalam kasus yang sama, Rosihan Anwar, juga tidak dilakukan penahanan dengan jaminan keluarga serta dikenakan wajib lapor.

Sebelumnya, Mujianto dan Rosihan Anwar beserta berkas dan barang bukti telah dilimpahkan ke Kejati Sumut, Kamis (26/7/2018). Penyerahan tahap dua (P22) itu dilakukan 3 hari setelah Mujianto ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (23/7/2018) sekitar pukul 19.00 WIB. Dia diamankan petugas Imigrasi saat akan berangkat menuju Singapura.

Mujianto dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pada pertengahan April 2108 oleh Poldasu diduga atas bantuan oknum politisi NasDem, Jaksa, dan petinggi Poldasu khususnya. Mujianto berulang mangkir dari panggilan Polda Sumut namun akhirnya dijemput paksa ke kediamannya dan akhirnya berhasil kabur.

Mujianto dijadikan tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan atas laporan A Lubis (60) dalam kasus dugaan penipuan sesuai dengan STTLP/509/IV/2017 SPKT II, tertanggal 28 April 2017 dengan kerugian materil mencapai Rp 3 miliar.

Mujianto dan Rosihan sempat ditahan penyidik Ditreskrimum Polda Sumut, Senin (31/1). Namun beberapa hari berselang penahanannya ditangguhkan. Setelah jaksa menyatakan berkas perkaranya lengkap (P-21), Mujianto menghilang dan tidak mengindahkan panggilan polisi. Dia pun dimasukkan dalam DPO hingga akhirnya tertangkap dan dilimpahkan ke Kejaksaan.(Hus/Deno)

Loading...