BERANDA Headline Dugaan Suap ke Jaksa, Bandar Sabu 39 Kg Cuma Dituntut 12 Tahun

Dugaan Suap ke Jaksa, Bandar Sabu 39 Kg Cuma Dituntut 12 Tahun

MEDAN | Besar dugaan adanya duit suap bagi pihak kejaksaan dan majelis hakim di balik tuntutan pada terdakwa bandar sabu, Dedi dan Herizal. Kedua warga Bireuen yang menyelundupkan sabu seberat 39 Kg itu cuma dituntut selama 12 tahun penjara di Pengadilan Negeri, Medan. Sidangnya pun digelar menjelang magrib, Selasa (18/12/2018). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cut Indri Hapsari kepada Majelis hakim mengatakan meminta kepada majelis hakim untuk menghukum Dedi dan Herizal masing-masing dijatuhi hukuman selama 12 tahun penjara, Denda 2 Miliar Subsider 6 bulan kurungan. “Perbuatan kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 3 jo pasal 10 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang,” dalih Cut Indri, disebut-sebut sejak beberapa tahun lalu 'pemain' mantan kasi Penyidkan Kejatisu, Irwan Ginting tersebut dalam kasus jual beli pasal kasus narkoba. Kedua terdakwa merupakan jaringan narkoba internasional yang dalam dakwaan terlibat dalam narkoba untuk menempatkan, mentransfer dana, mengalihkan, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang, atau surat berharga, atau perbuatan lain atas harta kekayaan. Ironisnya, jaksa itu menyatakan 'beratnya' tuntutan pada kedua terdakwa, lantaran sudah menikmati hasil penjualan sabu-sabu yang dilakukan temannya Ali Akbar. Memang, selain dituntut 12 tahun penjara, keduanya dikenakan pidana pencucian uang. Sebab itu, sejumlah aset kedua terdakwa berupa tanah yang berdiri di atasnya satu unit rumah di Komplek Perumahan Debang Taman Sari Blok Anggrek No. B-25 Jalan Flamboyan Raya, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan dan dua unit Mobil bermerk Honda CRV dan Honda Civic dirampas untuk negara. “Menuntut seluruh barang bukti yang merupakan hasil dari tindak pidana dirampas untuk negara,” kata jaksa Cut Indri. Diketahui dalam dakwaan JPU Cut Indri, Herizal dan Dedi bertugas sebagai bendahara atas peredaran narkotika yang dilakukan oleh Ali Akbar selama empat tahun, mulai dari Maret 2013 hingga Maret 2017. Total Keduanya dititipkan uang mencapai Rp 1,8 Miliar. Ali Akbar adalah bandar besar sabu-sabu internasional yang lebih dulu ditangkap petugas BNN pada Juni 2017 lalu. Ali Akbar merupakan target operasi BNN Jaringan Internasional Indonesia-Malaysia yang cuma divonis haki PN Medan tersebut selam 20 tahun penjara pada 1 Maret 2018.(Zeg)

MEDAN | Besar dugaan adanya duit suap bagi pihak kejaksaan dan majelis hakim di balik tuntutan pada terdakwa bandar sabu, Dedi dan Herizal. Kedua warga Bireuen yang menyelundupkan sabu seberat 39 Kg itu cuma dituntut selama 12 tahun penjara di Pengadilan Negeri, Medan. Sidangnya pun digelar menjelang magrib, Selasa (18/12/2018).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cut Indri Hapsari kepada Majelis hakim mengatakan meminta kepada majelis hakim untuk menghukum Dedi dan Herizal masing-masing dijatuhi hukuman selama 12 tahun penjara, Denda 2 Miliar Subsider 6 bulan kurungan.

“Perbuatan kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 3 jo pasal 10 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang,” dalih Cut Indri, disebut-sebut sejak beberapa tahun lalu ‘pemain’ mantan kasi Penyidkan Kejatisu, Irwan Ginting tersebut dalam kasus jual beli pasal kasus narkoba.

Kedua terdakwa merupakan jaringan narkoba internasional yang dalam dakwaan terlibat dalam narkoba untuk menempatkan, mentransfer dana, mengalihkan, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang, atau surat berharga, atau perbuatan lain atas harta kekayaan.

Ironisnya, jaksa itu menyatakan ‘beratnya’ tuntutan pada kedua terdakwa, lantaran sudah menikmati hasil penjualan sabu-sabu yang dilakukan temannya Ali Akbar.

Memang, selain dituntut 12 tahun penjara, keduanya dikenakan pidana pencucian uang. Sebab itu, sejumlah aset kedua terdakwa berupa tanah yang berdiri di atasnya satu unit rumah di Komplek Perumahan Debang Taman Sari Blok Anggrek No. B-25 Jalan Flamboyan Raya, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan dan dua unit Mobil bermerk Honda CRV dan Honda Civic dirampas untuk negara.

“Menuntut seluruh barang bukti yang merupakan hasil dari tindak pidana dirampas untuk negara,” kata jaksa Cut Indri.

Diketahui dalam dakwaan JPU Cut Indri, Herizal dan Dedi bertugas sebagai bendahara atas peredaran narkotika yang dilakukan oleh Ali Akbar selama empat tahun, mulai dari Maret 2013 hingga Maret 2017. Total Keduanya dititipkan uang mencapai Rp 1,8 Miliar.

Ali Akbar adalah bandar besar sabu-sabu internasional yang lebih dulu ditangkap petugas BNN pada Juni 2017 lalu. Ali Akbar merupakan target operasi BNN Jaringan Internasional Indonesia-Malaysia yang cuma divonis haki PN Medan tersebut selam 20 tahun penjara pada 1 Maret 2018.(Zeg)

 

Loading...