BERANDA Headline Penjual Lahan Eks HGU PTPN-2 ke PT Cemara Asri Diperiksa KPK

Penjual Lahan Eks HGU PTPN-2 ke PT Cemara Asri Diperiksa KPK

Tamin Sukardi

JAKARTA | Penyuap Hakim Adhoc Tipikor Pengadilan Negeri (PN) N Medan, Tamin Sukardi menjalani pemeriksaan perdana setelah ditahan di KPK, Rabu (5/9/2018). Bos Taman Simalem Resrort di areal hutan negara hasil pembalakan liar itu di Kecamatan Merek, Tanah Karo, Sumut, sebelumnya terjaring OTT KPK, pekan kemarin.

Tamin Sukardi melakukan suap putusan perkara di PN Medan dalam sengketa jual lahan seluas 74 hektare yang tercatat sebagai aset PTPN 2 (Persero). Tanah yang diperkarakan juga adalah sebahagian besar milik masyarakat Tanjung Mulia, Mabar yang dijual ke PT Cemara Asri Group pimpinan Mujianto (tersangka penipu yang tak juga dibawa jaksa untuk diadili ke PN Medan lantaran suap ke petinggi Adhiyaksa).

Pengusaha yang saling gugat atas aset negara dengan mafia tanah Mujianto dan keluarga besar Anif Shah ayah Wagubsu terpilih Musa Rajek Shah guna mendapatkan alas hak (surat tanah) dengan keluarnya putusan PN Medan itu, adalah penyuap Hakim Adhoc Tipikor PN Medan, Merry Purba dan jaksa yang tak menahannya dengan dalih sakit selama menjalani persidangan dan status tersangka di Kepolisian.

Tanah yang diperkarakan namun milik negara, seluas 74 hektare yang tercatat sebagai aset PTPN 2 (Persero). Sementara ratusan hektar lagi milik masyarakat Tanjung Mulia, kini masih sengketa lantaran belum diganti rugi namun akan diserahkan Pemprovsu dan Tamin Sukardi kepada PT Cemara Asri Group.

Merry Purba Nggak Ngaku

Di tempat yang sama, di gedung KPK, hakim ad hoc Tipikor Pengadilan Negeri Medan Merry Purba mengaku tak tahu-menahu soal asal-muasal uang yang ditemukan penyidik KPK di meja kerjanya. Dia malah meminta penyidik untuk memeriksa CCTV di ruangannya untuk mengetahui siapa yang menaruh uang di mejanya.

“Kalaupun ada keberadaan uang di meja saya. Kalau memang mau jujur, saya mohon kepada penyidik KPK dengan segala kerendahan hati saya, tolong selidiki CCTV siapa yang masuk ke ruangan saya mulai dari tanggal yang disebutkan itu tanggal 25 (Agustus 2018) karena yang dipertanyakan ke saya kan tanggal 25, sementara tanggal 25 saya tengah kebaktian,” ujar Merry di Gedung KPK Kuningan Jakarta Selatan, Rabu (5/9/2018).

Merry mengaku tak tahu tiba-tiba ada pihak yang meletakkan uang di mejanya. Untuk itu, dia juga meminta penyidik menelisik sidik jari yang ada di uang tersebut.

“Mohon supaya diambil sidik jari siapa yang menerima uang itu dan siapa yang menempatkan uang itu di meja saya. Tolong berkata jujur,” dalih Merry, hakim spesialis keluarga Anif Shah mafia tanah eks HGU PTPN-2 untuk areal perluasan realestate PT Cemara Asri Group pimpinan Mujianto tersebut.

Diduga, ada penyerahan uang yang terjadi di ruangan Merry Purba pada Sabtu, 25 Agustus 2018. Uang suap tersebut untuk mempengaruhi putusan majelis hakim di vonis Tamin Sukardi.

“Apakah keberadaan uang di laci saya menjadikan saya tersangka? Saya tanya sekarang,” tambanya, dengan nada kesal.

Dalam kasus ini KPK menetapkan Hakim Adhoc Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Medan Merry Purba sebagai tersangka kasus dugaan penerimaan suap terkait penanganan perkara tindak pidana korupsi di PN Medan.

Selain Merry Purba, KPK juga menetapkan tiga orang lainnya sebagai tersangka. Yakni Helpandi selaku panitera pengganti PN Medan, Tamin Sukardi selaku pihak swasta serta Hadi Setiawan yang merupakan orang kepercayaan Tamin.

Tamin yang merupakan terdakwa yang tengah diadili oleh Merry memberikan SGD 280 ribu kepada Merry untuk mempengaruhi putusan perkara korupsi penjualan tanah aset negara.

Tamin divonis Merry pada 27 Agustus 2018 dengan hukuman 6 tahun penjara denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. Padahal jaksa menuntut Tamin hukuman 10 tahun penjara.(Hus)

 

 

Loading...