BERANDA Headline Ratna Srumpaet Bohong, Polri & Media Rusak Citra Jokowi

Ratna Srumpaet Bohong, Polri & Media Rusak Citra Jokowi

JAKARTA | Orang pintar dan ‘maklum’ kinerja Polri dikomando Jenderal Tito Karnavian, diyakini tak percaya kalau aktivis Ratna Sarumpaet berbohong dianiaya. Pengakuan Ratna Sarumpaet berbohong dinilai akibat dugaan tekanan psikologis serta hilangnya kepercayaan pada kinerja Polri.

Hal di atas dikemukakan Ester Napitupulu, penggiat anti korupsi juga aktivis perempuan asal Sumatera Utara, menanggapi keperihatinannya pada posisi Ratna Sarumpaet yang dijadikan objek penderita di tengah-tengah tingginya suhu politik menjelang Pilpres 2019.

“Ekspoitasi kasus pengakuan bohong Ratna Sarumpaet yang berlebihan sekarang ini, justru memperjelas dugaan politisasi dan kriminalisasi. Buntutnya akan makin menggembosi kepercayaan publik pada penegakan hukum dan jalannya pemerintahan Joko Widodo. Apalagi kasus Ratna Sarumpaet seakan jadi alat pengalihan isu ekonomi yang makin terpuruk. BBM naik dan rupiah makin anjlok pada level 15 ribu lebih per dolar AS, tak begitu dihiraukan media massa,” kata Ester di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (11/2018).

“Kenapa tak dijadikan pembahasan utama dan pemberitaan oleh media massa soal terpuruknya ekonomi dan meningkatnya utang luar negeri serta terus meningkatnya tindak pidana korupsi? Jawabnya tentu juga rakyat tahu. Pemilik media massa umumnya di Indonesia adalah politisi dan penguasa serta pengusaha korup. Dan pendukung serta penjilat Capres Jokowi. Berlebihan, padahal cuma kasus taik burung,” tambahnya.

Karena hal ini pula, Ester berharap agar Ratna Sarumpaet jangan justru dibiarkan ‘sendiri’. Ibunda artis Atiqah Hasiholan itu harus dibantu khususnya masyarakat dan mahasiswa maupun penggiat keadilan maupun akademisi serta lainnya.

“Kalau Pak Amien Rais dikawal 300 advokad saat menjalani pemeriksaan polisi, kenapa Bu Ratna tidak? Saya tegas menyatakan tak percaya bu Ratna berbohong. Sialnya bu Ratna Sarumpaet gagal ke luar negeri karena dicekal dan ditangkap. Kalau sempat jadi LN, mungkin lain ceritanya. Walau telah temu pers dan disiarkan semua media massa mengaku berbohong lebam karena dianiaya,” pungkasnya.

Terpisah, mantan pimpinan redaksi sejumlah media cetak maupun online lokal dan nasional, H Siregar selaku salah satu korban kriminalisasi ‘dipaksa’ meminta maaf oleh oknum penegak hukum pada mafia tanah eks HGU PTPN-2, Anif Shah lantaran pemberitaan pemeriksaan KPK di Mako Bromob Poldasu di Jalan KH Wahid Hasyim, Medan, juga meragukan pengakuan Ratna Sarumpaet yang berbohong dianiaya tiga orang tak dikenal di Bandung.

“Bohong tidaknya Ratna Sarumpaet, dia yang tahu itu. Yang pasti, secara psikologis dan memikirkan keselamatan keluarga dan masa depan anak-anak, saya sempat nyaris mengorbankan moral dan bahkan hampir kehilangan nyawa dikondisikan penyidik dan jaksa ke Rutan Tanjung Gusta Medan. Gara-garanya saya tak mau meminta maaf pada Pak Haji Anif, terkait pemberitaan di medanseru.co yang disebarluaskan Ketua KNPI Sumut tahun 2015 lalu,” jelas Siregar.

Belakangan, cerita Siregar, dirinya yang saat pemberitaan desakan mahasiswa ditahannya Ajib Shah (Ketua DPRD Sumut saat itu) dan abangnya, Anif Shah, terkait suap ‘uang ketuk’ dan interplasi Gatot Pujo Nugroho ketika menjabat Gubsu, dalam keadaan sakit dan opname di salah satu rumah sakit di Langkat, ditetapkan sebagai tersangka dan masuk DPO Poldasu.

“Padahal surat sakit dan komunikasi saya dua puluh empat jam dengan penyidik berjalan. Tapi saya dibilang tak kooperatif lalu masuk DPO dan akhirnya dijemput paksa dari rumah serta wajib lapor selama 7 bulan, hari Senin dan Kamis. Begitu dua hari lagi Irjen Paulus masuk kerja sebagai Kapoldasu menggantikan Irjen Ryco, berkas dan saya buru-buru dilimpahkan ke Kejatisu. Berkas dan saya dilimpahkan saat kantor Kejatisu sangat sepi dan jelang hari H HUT Adyiyaksa di 2017 lalu. Langsung keluar surat perintah penahanan 20 hari ke depan ke Rutan Tanjung Gusta,” bebernya.

Karenanya, lanjut Siregar, bila melihat kasus kriminalisasi yang dialaminya gegara mantan anggotanya memberitakan seorang maling aset negara di media online yang saat sebelum dirinya ditetapkan sebagai tersangka langsung diblokir Poldasu, dirinya pun sangat meragukan pengakuan Ratna Sarumpaet di depan pewarta para pemilik media pendukung capres-cawapres Jokowi-Ma’aruf.

“Sekelas memuluskan Musa Rajek Shah selaku anak kandung Anif Shah untuk jadi Cawagub di Pilkada 2018 saja, agar tak terganggu dengan dugaan keterlibatannya (Musa dan Anif) dalam kasus suap DPRD Sumut oleh Gatot, sejumlah bekas anak buah saya dan keluarga kandung saya mengorbankan saya. Bahkan ada koran yang terbit dan berdirinya termasuk saya yang ‘membicani’ (metro 24 Jam) sanggup melakukan pemnunuhan karakter dan memberitakan saya dengan menyatakan berita Anif Shah dan Musa Rajek Shah diperiksa KPK berita bohong. Apalagi bu Ratna Sarumpaet yang jelas sempat masuk di tim pemenangan Prabowo-Sandi,” katanya.

“Bu Ratna juga kan berulang kali mengatakan bahkan di media televisi swasta kalau dirinya tak percaya pada penegak hukum sekarang ini. Juga menyesalkan sejumlah media massa yang terkesan berpihak pada pemerintahan Jokowi,” pungkasnya, prihatin dan mengajak para aktivis dan mahasiswa maupun pihak media massa yang masih memiliki hati nurani tak terus ‘menganiaya’ Ratna Sarumpaet.

“Penegakan hukum yang bohong kenapa didiamkan. Contohnya bos MNC Group, HT (Harry Tanoe) yang telah ditetapkan Kejaksaan Agung sebagai tersangka kasus mobile-8 yang tiba-tiba berhenti setelah HT bertemu Jaksa Agung. Kasus dengan tersangka Victor Lakosdat yang kini malah jadi Gubernur. Polri kan sudah menetapkannya sebagai tersangka kasus dugan terkait sara, Kok tak lanjut? Sekarang siapa yang pembohong, penegak hukum atau rakyat yang butuh keadilan. Politisasi kasus Ratna Sarumpaet bisa-bisa justru merusak citra Presiden Jokowi,” pungkasnya.

Diketahui, hari ini Kamis (11/10/2018) Ratna Sarumpaet kembali diperiksa Polri terkait pengakuan kebohongannya tersebut. Bahkan Polri memperketat pengamanan di rutan Polda Metro Jaya, tempat Ratna ditahan. Mirisnya lagi, layaknya tahanan teroris, polisi juga memasang CCTV tambahan di Rutan itu.

“Intinya bahwa yang bersangkutan atau tersangka RS ini di lokasi rutan di Polda Metro kami tambah empat buah CCTV. Nanti kami bisa memantau keluar-masuknya orang, siapa yang besuk, siapa yang datang, kita bisa tahu di situ,” sebut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono pada wartawan di Mapolda Metro, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Tak hanya itu, polisi juga menyiapkan makanan khusus untuk Ratna. Makanan itu disajikan oleh Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Metro.

“Selain itu, beberapa makanan yang disajikan dilakukan security food oleh Dokkes Polda Metro Jaya,” tambah Argo.

Ratna sebelumnya menjalani pemeriksaan kesehatan di Dokkes Polda Metro Jaya pada Rabu (10/10/2018). Polisi juga menghadirkan psikolog untuk memeriksa kondisi Ratna.

Sebelum itu, polisi melakukan penggeledahan di sel tahanan Polda Metro Jaya. Polisi menyita satu unit ponsel dari sel yang ditempati Ratna. Namun ponsel itu bukan milik Ratna, melainkan milik tersangka lain.(Per)

Loading...